“Minyak kelapa tinggi lemak jenuh bahaya buat kesehatan, pilih dong minyak yg tinggi lemak tak jenuhnya”
Siapa yang sering mendengar statement ini?
Ini mitos atau fakta ya??
Jawabannya adalah mitos.
Minyak kelapa murni (VCO) memiliki hampir 90% asam lemak jenuh dan 10% asam lemak tak jenuh. [1]
Eits !! tapi jangan salah ya,
komposisi asam lemak jenuh yang dominan dalam minyak kelapa murni adalah asam laurat yang merupakan MCFAs medium chain fatty acids atau asam lemak rantai karbon sedang.
Faktanya :
- MCFAs ini sangat mudah diproses tubuh untuk menjadi energi tanpa proses yang panjang lagi [2], ia langsung diserap dari usus dan dikirim langsung ke hati untuk digunakan dengan cepat untuk produksi energi tanpa berpotensi disimpan di adiposa, berbeda dengan LCFAs yang memerlukan proses yang sangat panjang ditubuh.
- Partikel LDL yang ditimbulkan oleh konsumsi asam lemak minyak ini berukuran besar dan ringan, yang kurang terkait dengan penyakit kardovaskular jika dibandingkan dengan partikel LDL yang kecil dan padat ( Katan et al., 1994 ). [3]
- Asam laurat dan asam kaprat yang merupakan komponen minyak kelapa ini dalam tubuh manusia diubah menjadi monolaurin dan monocaprin yang bersifat anti virus, anti bakteri dan anti fungal. [4][5][6]
- Minyak kelapa ini juga memiliki karakter tidak mudah berikatan dengan komponen lainnya, sehingga dia tdk mudah menyerap di bahan makanan [4][7], sehingga penggunaannya menjadi lebih hemat.
- Minyak kelapa lebih stabil dalam pemanasan dan tidak mudah menghasilkan harmfull polar compound dibandingkan minyak nabati lainnya. [8]
- Asam laurat sebagai MCFAs ini dapat juga ditemukan di asam lemak dominan pada ASI juga dalam makanan penambah energi, susu atlet, atau minuman berkebutuhan khusus lainnya.
Jadi banyak sekali manfaatnya bukan?
Namun, sebelum memilih minyak kelapa sebagai pilihan memasak, perlu diingat bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga merekomendasikan untuk membatasi asupan lemak jenuh hingga maksimum 10 persen dari total kalori harian. [9]
Kedua, sesuai dengan standar APCC pastikan minyak kelapa tersebut mengandung 43-53% asam laurat yang tercantum pada label gizinya.
Banyak minyak kelapa murni atau minyak kelapa goreng diluaran sana tanpa mencantumkan asam lauratnya, hati hati ya,
tanpa asam laurat minyak kelapa tidak dapat dikatakan murni lagi, dan kebermanfaatannya hilang, ia sama seperti minyak nabati lainnya. Karna tanpa MCFAs yang dominan, yang mana ia dapat hilang saat pemrosesan panjang, minyak kelapa tersebut hanya mengandung asam lemak jenuh yang didominasi oleh asam palmitat, ia adalah LCFAs.
Minyak kelapa vs minyak tak jenuh lainnya
Minyak sawit berbeda jauh dengan minyak kelapa ya. Dia mengandung 50% asam lemak jenuh dan 40% asam lemak tak jenuh tunggal dan 10% asam lemak tak jenuh ganda. Asam Palmitat (44%) yaitu Asam lemak jenuh di minyak kelapa sawit ini adalah LCFAs long chain fatty acids atau asam lemak rantai karbon panjang, sama halnya dengan asam
linoeat dan oleat sebagai asam lemak tak jenuh dalam minyak sawit ini. [7]
LCFAs ini diproses dalam tubuh melalui proses yang sangat panjang untuk dapat menjadi suplai energi sehingga berpotensi disimpan di adiposa, ia berpotensi berkaitan dengan penyakit kardiovaskular. [10]
Asam lemak tak jenuh memang baik untuk meningkatkan HDL namun kerusakan oksidasi akibat pemanasan diatas suhu 100°C lebih cepat terjadi pada minyak dengan kandungan asam lemak tak jenuh tinggi, ia lebih banyak mengalami pemutusan ikatan rangkap pada ikatan asam lemak tidak jenuh sehingga menyebabkan radikal bebas dan dapat menghasilkan polar compound berbahaya. [11]



Untuk mendapatkan kebaikan asam lemak tak jenuh semestinya dikonsumsi langsung tanpa pemanasan / proses pemasakan.
Jadi mari kita lebih bijak mengolah, memilih dan mngatur penggunaan dengan tepat, agar kebaikan bahan pangan tersebut juga bisa kita dapatkan
Sumber:
[1] Warisno, 2003, “Budidaya Kelapa Genjah”. Kanisius. Yogyakarta. hal 15-16.
[2] Lieberman, S., Enig, M. G., Preuss, H. G. (2006). A review of monolaurin and lauric acid: natural virucidal and bactericidal agents. Alternative and Complementary Therapies, 12 (6):310–314.
[3] Phey Liana, Peran Small Dense Low Density Lipoprotein Terhadap Penyakit Kardiovaskular, JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN, VOLUME 1, NO. 1 OKTOBER 2014: 67-72.
[4] Marina, A. M., Che Man, Y. B., Amin, I. (2009). Virgin coconut oil: emerging functional food oil. Trends in Food Science & Technology, 20 (10): 481–487
[5] A Novilla, P Nursidika, W Mahargyani. Komposisi asam lemak minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil) yang berpotensi sebagai anti kandidiasis EduChemia (Jurnal Kimia dan Pendidikan) 2 (2), 161-173, 2017
[6] In Vitro Antimicrobial Properties of Coconut Oil on Candida Species in Ibadan, Nigeria. D.O. Ogbolu; A.A. Oni; O.A. Daini; A.P. Oloko. D.O. Ogbolu 2007 Jun;10(2):384-7. doi: 10.1089/jmf.2006.1209.
[7] Rindengan Barlina dan Danny Torar Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol.24 No.2 Tahun 2006, hal. 133-144
[8] Prescha A, Grajzer M, Dedyk M, Grajeta H. The Antioxidant Activity and Oxidative Stability of Cold-Pressed Oils. J Am Oil Chem Soc. 2014;91(8):1291-1301. doi:10.1007/s11746-014-2479-1
[9] The Food and Agriculture Organization of the United Nations and the World Health Organization Rome. http://www.fao.org/3/v4700e/v4700e00.htm#Contents
[10] Science based Independent. Coconut Oil vs Olive Oil vs Canola Oil? New Study Finds Olive Oil Is Best, Coconut Oil Has Zero Antioxidants, Canola Oil Is Worst For Cooking, July: 2019. https://www.dietvsdisease.org/coconut-oil-vs-olive-oil-study. acssed dec. 2019
[11] Sartika, Ratu. (2009). PENGARUH SUHU DAN LAMA PROSES MENGGORENG (DEEP FRYING) TERHADAP PEMBENTUKAN ASAM LEMAK TRANS. Seri Sains (Science Series); Vol 13, No 1 (2009): April. 13. 10.7454/mss.v13i1.354.

Leave a Comment